Minggu, 19 Mei 2013

Akhlaq Tasawuf/ Tarekat


TAREKAT
PENGERTIAN TAREKAT
 Kata tarekat berasal dari bahasa arab yaitu thariqah ,yang berarti “jalan” atau ”metode” dan mengacu pada aliran keagamaan tasawuf.Tarekat secara konseptual terkait dengan haqiqah atau kebenaran sejati,yaitu cita-cita ideal yang ingin dicapai oleh para pelaku aliran tersebut.
Serang penuntut ilmu agama akan memulai pendekatanya dengan mempelajari hukum islam,yaitu duniawi islam dan kemudian berlanjut pada jalan pendekatan mistis keagamaan yang berbentuk tariqah.Calon penghayat tarekat islam akan berupaya untuk mencapai haqiqah (hakikat atau kebenaran hakiki) dengan melalui praktik spiritual dan bimbingan seorang pemimpin tarekat.
Menurut Al – Jujani ‘Ali bin Muhammad ‘Ali,tarekat adalah metode khusus yang dipakai oleh salik (para penempuh jalan) menuju Allah Ta’ala melalui tahapan –tahapan atau maqamat.
Dengan demikian tarekat mempunyai dua pengertian, pertama ia berarti metode pemberian bimbingan spiritual kepada individu dalam mengarahkan kehidupannya menuju kedekatan diri kepada Tuhan.Kedua.tarekat sebagai persaudaraan kaum sufi yang ditandai dengan adanya lembaga formal seperti zawiyah,ribath atau khanaqah.
Tarekat mempunyai tiga sistem,yaitu sistem kerahasiaan,sistem kekerabatan (persaudaraan) dan sistem hirarki seperti khalifah tawajjuh atau khalifah suluk,syekh atau mursyid,wali atau qutub.Ajaran wasilah dan silsilah memperkokoh guru tarekat.Keyakinan berwasilah dengan guru dipererat dengan kepercayaan kharamah dan barakah atau syafa’ah.
Pengertian di atas menunjukkan tarekat sebagai cabang atau aliran dalam paham tasawuf.Pengertian itu dapat ditemukan pada Al-Thariqah,Al-Mu’tabarah,Al-Ahadiyah,Tarekat Qadariyah,Tarekat Naksibandiyah,Tarekat Rifa’iaah dll.Kata tarekat di Indonesia ada juga yang digunakan sebagai sebutan atau nama paham mistik yang dianutnya dan tidak ada hubungannya secara langsung dengan paham tasawuf atau dengan tarekat besar dan kenamaan.Misalnya Tarekat Sulaiman Gayam (Bogor),Tarekat Khalawatiah Yusuf (Sulawesi Selatan) boleh dikatakan meminjam sebutannya saja.
Kaum sufi berpendapat bahwa terdapat empat tingkatan spiritual umum dalam islam yaitu syari’at,tariqah,haqiqah dan makrifat.Tingkatan yang keempat merupakan tingkatan yang tak terlihat dan dianggap sebagai inti dari wilayah hakikat,sebagai esensi dari seluruh tingkatan kedalaman spiritual beragama tersebut.
Asy – Syekh Muhammad Amin Al – Kurdiy mengemukakan tiga macam definisi tarekat,yaitu:
1.      Tarekat adalah pengalaman Syari’at dalam melaksanakan beban ibadah dengan tekun dan menjauhkan diri dari sikap mempermudah ibadah,yang sebenarnya memang tidak boleh dipermudah.
2.      Tarekat adalah menjauhi larangan dan melakukan perintah Tuhan sesuai dengan kesanggupannya,baik larangan dan perintah yang nyata atau tidak (bathin)
3.      Tarikat adalah meninggalkan yang haram dan yang makruh,memperhatikan hal –hal yang mubah yang sifatnya mengandung fadillah,menunaikan hal-hal yang diwajibkan dan yang disunnahkan sesuai dengan kesanggupan pelaksana dibawah bimbingan dari sufi yang mencita – citakan suatu tujuan.
L. Massignon pernah mengadakan penelitian terhadap kehidupan tasawuf di beberapa negara islam,dari penelitiannya ia berkesimpulan bahwa istilah tarekat mempunyai dua macam pengertian,yaitu:
1.      Tarekat yang diartikan sebagai pendidikan kerohanian yang sering dilakukan oleh orang – orang yang menempuh kehidupan tasawuf untuk mencapai suatu tingkatan kerohanian yang disebut  “Al – Maqamat dan Al – Ahwal”.
2.      Tarekat yang diartikan sebagai perkumpulan yang didirikan menurut aturan yang telah dibuat oleh seorang Syekh yang menganut suatu aliran tarekat tertentu.Maka dalam perkumpulamn itulah seorang Syekh mengajarkan ilmu tasawuf yang dianutnya,kemudian diamalkan bersama muriud – muridnya.
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa tarekat itu dapat dilihat dari dua sisi,yaitu amaliyah dan perkumpulan (organisasi).Sisi amaliyah merupakan latihan kejiwaan (kerohanian) baik yang dilakukan oleh seseorang maupun secara bersama –sama melalui aturan – aturan tertentu untuk mencapai suatu tingkatan kerohanian yang disebut “Al – Maqamat” dan “Al – Ahwal” ,kedua istilah ini ada segi perbedaanya.Suluk adalah latihan kerohanian, jika dilihat dari sisi amalnya maka pengertian tarekat dan suluk adalah sama.Tetapi jika dilihat dari segi organisasinya tentu saja pengertian tarekat dan suluk itu berbeda.
Al – Maqamat dan Al – Ahwal dapat dibedakan dari dua segi,yaitu:
1.      Tarekat kerohanian yang disebut maqam hanya dapat diperoleh dengan cara pengalaman ajaran tasawuf yang sungguh – sungguh.Sedangkan ahwal disamping dapat diperoleh manusia yang mengamalkannya,dapat juga diperoleh manusia hanya karena semata – mata anugerah dari Tuhan meskipun ia tidak pernah mengajarkan ajaran tasawuf secara sungguh – sungguh.
2.      Tingkatan kerohanian yang disebut maqam sifatnya langgeng,sedangkan ahwal bersifat sementara.Ahwal biasannya sering ada pada diri manusia dan sering pula hilang.
Menurut Abu Nashr As – Sarraj tingkatan maqam ada 7,yaitu:
1.    Tingkatan pengawasan diri (Al – Muraqabah)
2.    Tingkatan kedekatan atau kehampiran diri ( Al – Qurbu)
3.    Tingkatan cinta (Al – Mahabbah)
4.    Tingkatan takut (Al –Khauf)
5.    Tingkatan harapan (Ar – Raja)
6.    Tingkatan kerinduan(Asy – Syauq)
7.    Tingkatan senang mendekat perintah Allah (Al – Unsu)
8.    Tingkatan ketenangan jiwa (Al – Itmi’nan)
9.    Tingkatan perenungan (Al – Musyahadah)
10.       Tingkatan kepastian ( AL – Yaqin)
         Menurut Abu Said bin Abil Khair tingkatan maqam ada 40,yaitu:
1)      Tingkatan niat (An – Niyat)
2)      Tingkatan penyesalan (Al – Inabah)
3)      Tingkatan Taubat(At –Taubah)
4)      Tingkatan penguasaan diri (Al – Iradah)
5)      Tingkatan perjuangan bathin (Al – Mujahadah)
6)      Tingkatan pengontrolan diri (Al – Muraqabah)
7)      Tingkatan sabar (As – Sabru)
8)      Tingkatan dzikir (Az –Zikru)
9)      Tingkatan kerelaan hati (Ar –Rida)
10)  Tingkatan upaya melawan nafsu (Mukhlafatun Nafsi)
11)  Tingkatan sikap setuju (Al -  Muwafaqah)
12)  Tingkatan penyerahan diri (At – Taslim)
13)  Tingkatan tawakal ( At – Tawakkul)
14)  Tingkatan meninggalkan kesenangan dunia (Az – Zuhdu)
15)  Tingkatan pengabdian kepada Tuhan (Al – Ibadah)
16)  Tingkatan menghindari yang haram,makruh dan syubhat ( Al – Wara)
17)  Tingkatan keikhlasan (Al – Ikhlas)
18)  Tingkatan terpercaya (As – sidqu)
19)  Tingkatan takut (Al – Khauf)
20)  Tingkatan pengharapan (Ar – Raja)
21)  Tingkatan perniagaan diri (Al – Fana)
22)  Tingkatan perasaan hidup kekal (Al – Baqa)
23)  Tingkatan ilmu yang diyakini kepastiannya (Ilmu Yaqin)
24)  Tingkatan kebenaran yang diyakini kepastiannya (Haqqul Yaqin)
25)  Tingkatan pengenalan terhadap Tuhan (Al – Ma’rifah)
26)  Tingkatan perjuangan jiwa (Al – Jahdu)
27)  Tingkatan penguasaan diri untuk tetap suci ( Al – Wilayah)
28)  Tingkatan cinta (Al – Mahabbah)
29)  Tingkatan perasaan selalu berdampingan dengan Tuhan (Al – Wijdu)
30)  Tingkatan perasaan menghampiri Tuhan (AL – Qurbu)
31)  Tingkatan tafakur (At – Tafakkur)
32)  Tingkatan perasaan sudah sampai kepada Tuhan ( Al – Wisal)
33)  Tingkatan ketersingkapan tirai (Al – Kasyfu)
34)  Tingkatan yang selalu ingin melayani keinginan yang luhur (Al –Khidmah
35)  Tingkatan bersih diri (At – Tajrid)
36)  Tingkatan perasaan kesendirian (At – Tafrid)
37)  Tingkatan perasaan selalu dalam keadaan suka cita (AlImbisat)
38)  Tingkatan  penentuan yang benar (At-Tahqiq)
39)  Tingkatan perasaan berada pada tujuan yang luhur (An-Nihayah)
40)  Tingkatan kebersihan sikap dan perilaku (At-Tasawuf)


Timbulnya hasrat bagi ulama sufi untuk mengorganisir pengikut-pengikutnya, lalu mengisi jiwanya dengan sifat-sifat yang senang meninggalkan kemewahan dunia karena dilatarbelakangi oleh kemewahan dunia karena dilatarbelakangi oleh kemewahan umat Islam di Baghdad sekitar abad ke-III sampai abad ke IV Hijriyah yang waktu itu manusia lebih banyak perhatiannya terhadap kehidupan yang mewah dari pada kehidupan keagamaan. Dengan demikian, maka pengertian tarekat ditunjukan kepada organisasinya dan ajaran-ajaran yang diterima oleh muridnya pada perkumpulan itu, tidak ditunjukkan pada pengalamannya. Karena pengalaman ajaran yang telah diterimanya disebut “suluk” bukan lagi tarekat.

ISTILAH TAREKAT
Ada beberapa istilah tarekat, diantaranya adalah :
1)      Syariat
Kata “syariat” berarti perjalanan atau peraturan, maksudnya para ahli tarekat berpendapat berupa amalan-amalan lahir, misalnya sholat, puasa, zakat dan lain sebagainya.
2)      Hakikat
Kata “hakikat” berarti puncak atau kesudahan atau asal sesuatu arti lain dari hakikat adalah kebalikan syari’at yaitu yang berhubungan dengan batin.
3)      Ma’rifat
Kata “Marifat”  berarti pengetahuan atau pengalaman menurut istilah ma’rifat adalah pengetahuan dalam mengerjakan syariat dan hakikat. Para ahli tarekat berpendapat bahwa ma’rifat adalah sifat sufi yang bertingkat-tingkat, dari tingkat talib, murid, salik dan wasil. Jadi apabila telah berada kehadirat ilahi maka ia disebut ahli ma’rifat.
4)      Tarikat
Kata “Tarikat” berarti jalan. Menurut istilah tarikat adalah jalan atau cara yang ditempuh menuju keridhoan Allah.
5)      Suluk
Kata “suluk” berarti menempuh perjalanan. Menurut istilah suluk adalah ikhtiar (Usaha) dalam menempuh jalan untuk mencapai tujuan tarekat. “salik” adalah orang yang menjalankan ikhtiar.
6)      Manazil
Artinya tempat-tempat perhatian yang dilalui salik yang melaksanakan “suluk”.
·         Marsyahid
Yaitu hal-hal yang terlihat pada perjalanan di tengah sedang menjalankan suluk
·         Maqamat
Yaitu derajat-derajat yang dieproleh dengan usaha sendiri
·         Kasbiyah
Yaitu derajat-derajat yang diperoleh semata-mata dengan anugerah Allah yang disebut “al-ahwal” atau “mauhibiyah”.


Istilah-istilah diatas disebut empat bagian ketika memasuki tasawuf.
7)      Zawiyah
Zawiyah adalah suatu tempat untuk mendidik calon-calon sufi. Zawiyah disebut juga sebagai tempat latihan tarekat yang dilengkapi dengan mihrab untuk sholat. Madrasah merupakan wujud zawiyah besar “Ribat” adalah zawiyah yang indah yang dimiliki tarekat besar di Persi.
8)      Jika zikir nafi isbat
Ahli tarikat memberi tiga tingkat pengertian terhadap kalimat “la Ilaha Illallah”, yaitu :
·         Tiada Tuhan melainkan Allah
·         Tiada ma’bud melainkan Allah
·         Tiada maujud melainkan Allah
9)      As-Sukr
As-Sukr maksudnya sebagai salah satu sikap dalam ibadah dan khalwat. Sehingga orang itu tidak sadar lagi akan dirinya.
-          Al-Fana
Alfana adalah lupa terhadap segala sesuatu ketika beribadah kecuali yang disembahnya.
10 )  - Uslah
Uslah yaitu salah satu praktek suluk dengan mengasingkan diri dari khalayak ramai yang berbuat maksiat.


-        Khalwat
       Khalwat sebagai salah satu rangkaian dalam suluk dengan jalan menyendiri di tempat yang sunyi atau bertapa.
11)   Kasyaf
Kasyaf adalah terbukanya dinding antara hamba dengan Tuhan dalam tarikat. Menurut ahli tarekat ada empat dinding pembatas antara khalik dengan makhluk-Nya diantaranya yaitu :
12)   Najis dan hadast
13)   Haram dan makruh
14)   Akhlak yang tercela
15)   Kelainan terhadap Tuhan karena pengaruh dunia.
16)   Silsilah
Silsilah adalah nisbah (hubungan) guru-guru tarekat sambung menyambung dari bawah ke atas yang perlu diketahui oleh para pengikut tarekat.
17)   Khirq’ah
Khirqah adalah semacam ijazah yang diberikan kepada murid setelah mencapai suatu tahap dalam pengetahuan. Pada saat pemberian khirqah biasanya dibarengi dengan pemberian “wasiat” yaitu pesan-pesan penting dan khusus yang diberikan guru kepada muridnya.



18)   Wali
Wali adalah seseorang yang telah mencapai tingkat kesucian yang tinggi setelah melalui suluk. Sebagai bukti-bukti dari kewaliannya, dia mempunyai kelebihan-kelebihan tertentu.
19)  Keramat
Keramat adalah keistimewaan yang dimiliki oleh seorang wali tersebut.
20)  Beberapa ahli tarekat percaya adanya wali-wali besar, antara lain:
1.       Al-Ghauis (Mekah)
2.       Al-Autad (menjaga keselamatan dunia)
3.       Al-Aqtab (berjumlah tujuh)
4.       An-Nujaba (berjumlah tiga ratus).

Namun apabila diteliti di dalam Al-Qur’an dan al-hadist yang shahih tidak ada, maka termasuk khayalan (khurafat).

TOKOH-TOKOH TAREKAT DI DUNIA ISLAM MAUPUN DI INDONESIA
                   Ada beberapa peristilahan yang sering jumpai dalam tarekat yang bersifat perkumpulan, misalnya:
1)      Istilah syekh atau Mursyid, maksudnya adalah guru tarekat.
2)      Khalifah, maksudnya adalah wakil syekh atau Mursyid.
3)      Murid maksudnya adalah pengikut ajaran tarekat
4)      Baiat, maksudnya perjanjian atau sumpah setia murid kepada gurunya   ketika murid mulai memasuki perkumpulan  tarekat.
5)      Wasilah atau Rabitah, maksudnya adalah perantara guru (Syekh) dengan muridnya sehingga setiap amalan gurunya selalu dijadikan wasilah atau Rabitah oleh murid-muridnya.
6)      Suluk maksudnya adalah mengamalkan ajaran-ajaran yang telah diterima muridnya dari gurunya sebagai sarana latihan jiwa untuk mencapai suatu maqam dalam tarekat.
7)      Ijazah, maksudnya adalah sebuah penghargaan guru kepada muridnya berupa keterangan tertulis disertai dengan tanda tangan, silsilah tarekat dan simbol-simbol lain misalnya sepotoong kain yang disebut “Khiqatut Tabaruk”.

Ada macam-macam tarekat beserta para pendirinya, diantaranya adalah :
1)      Tarekat qadariyah, yang dinisbatkan kepada Asy-Syekh Abdul Qadir Jailani sebagai pendirinya.
2)      Tarekat Rifa’iyah, yang dinisbatkan kepada Asy-Syekh Ahmad Rifa’i
3)      Tarekat Maulawiyah, yang dinisbatkan kepada Asy-Syekh Maulana Jalaluddin Ar-Rumi.
4)      Tarekat Syaziliyah, yang dinisbatkan kepada Asy-Syekh Abul Hasan Ali bin Abdil Jabbar Asy-Syazali.
5)      Tarekat badawiyah yang dinisbatkan kepada Asy-Syekh Ahmad al-Badawi.
6)      Tarekat As-Suhrawardiyah, yang dinisbatkan kepada Asy-Syekh Umar As-Suhrawardi.
7)      Tarekat Naqsyabandiyah, yang dinisbatkan kepada Asy-Syahalah Bahauddin Muhammad bin Hasan An-Naqsabandi.
8)      Tarekat syattariyah, yang dinisbatkan kepada Asy-Syekh Abdul Barakat Ayyub bin Muhammad Al-Khalwati Al-Qursisyi, dll.
Disamping tokoh diatas, di Indonesia ada ulama yang menyerang dan memberi himbauan terhadap tasawuf dan tarekat, yaitu :
1)      Ustadz S.A Al-Hmadnai
       Beliau menyerang tasawuf dan tarekat dalam bukunya yang berjudul “Sanggahan terhadap tasawuf dan ahli sufi “terbitan Al-Ma’arif” Bandung. Beliau mempunyai kesimpulan bahwa tarekat dan tasawuf itu merupakan bid’ah.
2)      Prof. Dr. Hamka
       Dalam beberapa kitab tasawuf yang dikarangnya beliau mengakui bahwa tasawuf banyak dirusak orang dalam bentuk bid’ah dan sebagainya. Maka beliau menghimbau agar tasawuf baik isi dan prakteknya kembali kepada Al-Qur’an dan Al-Hadist.
                    Dalam suatu tarekat terdapat Syekh atau Mursyid yaitu guru yang memberikan petunjukan mengenai riyadhah atau latihan-latihan dalam melakukan zikir, dalam memperbaiki penyakit-penyakit jiwa (amradhul qulub/radza ‘ilul qulub), dalam berkhalwat, tawajjuh dari lain sebagainya.
            Tuhan adalah maha suci, untuk bertemu atau ma’rifat Allah, seorang sufi atau salik harus suci. Suci menurut Imam Al-Ghozali mempunyai empat yaitu:
1)      Mensucikan lahir dari hadast dan najis serta kotoran-kotoran
2)      Mensucikan dari dosa-dosa besar dan kecil
3)      Mensucikan jiwa (al Qalb) dari sikap dan tingkah laku yang tercela.
4)      Mensucikan hati nurani dari salin Allah SWt.
            Untuk dapat mempermudah menempuh jalan panjang yang harus dilalui tersebut seorang sufi harus selalu berdzikir/ ingat kepada Allah Swt. Seorang  sufi harus selalu berlatih melalui petunjuk seorang mursyid.

MENGENAL TAREKAT SUFI
            Dalam pandangan sufi tarekat merupakan media untuk mencapai tujuan “dekat dengan Allah”. Dengan menghimpun tugas-tugas murid dalam ikhtiar perbaikan diri dan pensucian jiwa. Dengan kata lain, tarekat dalam pandangan sufi merupakan istilah bagi praktek dzikir berdasarkan kurikulum pembelajaran. Tarekat adalah cara yang dilakukan oleh kaum sufi dalam mencapai tujuan yang dikehendaki.
            Secara harfiah, tarekat berarti jalan atau metode sama seperti syariah, sabil, shirath atau manhaz yaitu jalan menuju kepada Allah guna mendapatkan ridho-Nya. Penanaman thariqoh di ambil dari Al-Qur’an yang artinya “dan bahwasanya: jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama islam), benar-benar kami akan memberi minuman kepada mereka air yang segar (rezeki yang banyak). Q.S al-Jin:16


a.       Jami’iyah Thoriqoh Pertama
Organisasi thoriqoh pertama kali di ciptakan oleh Muhammad Ahmad al-Muhaymiy (385 - 430 H) dikenal dengan sebutan Abu Sa’id. Di negerinya ia memperkasai adanya silsilah thariqoh sufi secara genetic dan menetapkan khaidah-khaidah untuk para darwisy dengan membangun beberapa pondok khusus para murid sufi di sekitar rumahnya.
 Abu sa’id adalah salah seorang murid Abdul Rahman al-sulami seorang pengarang kitab thoraqot. Untuk pertama kalinya ia mendapat ijazah tasawuf dari al-sulami, sebelum kemudian ia juga mendapatkan ijazah dari abu al-‘abbas al qoshob.
Terkenalnya aliran-aliran seperti Qodariyah dan rifaiyah di Irak, ahmaddiyah, syadzaliyah dan Dasuqiyah di Mesir karena berkembangnya organisasi thoriqoh secara luas yang menyeberang dari Iran ke wilayah Timur Arab di abad kelima dan keenam hijriah.

b.      Makna asal thoriqoh
Awal mulanya thoriqoh diciptakan sebagai metode seorang syakh yang sedang menekuni dunia tasawuf yang mempunyai keinginan mencapai derajat syakh murabbi dan derajat kewalian seperti quthb, ghowts, awtad dan abdal.

c.       Syakh Thoriqoh
Sanad keilmuan tasawuf yang bersambung kepada guru-guru salaf sampai kepada al Juanyd al-Baghdadi dan terakhir kepada Rasulullah saw. diterapkan syakh thoriqoh pada dirinya. Sedangkan yang sanadnya terputus kemudian menciptakan thariqoh baru yang semua nama dan ketentuannya dibuat sendiri berdasarkan nama pendirinya. Bahkan mereka meyakini bahwa bentuk wiridan dan dzikirnya merupakan suatu karuania agung yang diperoleh secara langsung melalui ilham baik melalui Rasulullah maupun khidhir.
      Syakh merasa apa yang terjadi pada dirinya merupakan suatu keistimewaan yang belum tentu akan dimiliki orang kebanyakan. Mereka merasa dirinya mempunyai kharomah, kasyaf ilmu dan derajat kewalian. Olehkarena itu, pemilihan seorang syakh dalam tradisi thoriqoh dilakukan berdasarkan karomah yang dimiliki seorang syakh bukan didasarkan kepada keilmuan dan keshalehan seseorang.
      Mursyid adalah orang yang mempunyai hubungan silsilah dengan guru-guru sebelumnya hingga sampai kepada Nabi Muhammad saw. Pengertian silsilah disini ialah hubungan keturunan ilmu tarekat dari satu guru ke guru thariqot yang lain.
     
d.      Sanad / silsilah dzikir thoriqoh
Dzikir thoriqoh yang pertama kali diajarkan adalah Allahu…Allahu….Allahu….. dan pertama kali diajarkan oleh Ali bin Abu Tholib sesuai dengan terimanya dari Rasulullah saw. kepada Hasan al-Bashri. Hasan al-Bashri kemudian mengajarkannya kepada Habib al-Ajami, Habib al-Ajami mengajarkannya kepada Dawud, Dawud mengajarkannya kepada Ma’ruf, Ma’ruf mengajarkannya kepada al-saqothy dan al-saqothy mengajarkannya kepada al-Junayd.
Pengulangan lafadz Allahu memiliki tujuan khusus yaitu agar dapat secara bertahap menuju Allah (Tawajjuh) dan hanya memandangi Allah, melenyapkan segala yang ada selain Allah dalam tataran ilmu, segala menghilangkan segala bisikan selain Allah dari dalam hati.

Dinamika Thariqoh (Thoriqoh Sufi)
Kemunduran islam telah menyebabkan jalan lurus menuju islam terpecah menjadi dua, yaitu jalan keduniawian dan jalan keshalehan. Kedua jalan itu selalu berlawanan. Jalan yang satu dipandang terpuji dan mengandung semua nilai religius dan etis, sedangkan jalan yang lainnya dipandang terkutuk dan mengandung nilai-nilai materialistis. Semua itu diakibatkan oleh pemikiran umat islam yang tidak lagi menyatu dengan tindakan dan prilaku keagamaan mereka. Kedua jalan itu mengalami transformasi. Jalan pertama berubah menjadi spiritualitas hampa, sama dengan spiritualitas kosong dan kerahiban kristiani dan budha, suatu spiritualitas yang tidak merasa berkepentingan dengan kesejahteraan masyarakat dan tidak berusaha mewujudkan keadilan di dunia yang semakin semrawut (sangat individulistik). Ia juga tergoda pada gnonis dan pengalaman-pengalaman mistik. Tidak terbayangkan oleh para syakh pendiri tarekat-tarekat sufi dan peletak dasar-dasar ideologis, jika persaudaraan atau perkumpulan mereka akan menyimpang sedemikian rupa dan menyimpang jauh karena memperkembangkan etik dan tujuan peribadatan yang bertentangan dengan islam.
            Penilaian sepihak itu juga datang dari sekelompok cendikiawan yang mengaku, menganut dari jauh praktek pelaksanaan doktrin tarekat dengan pengamatan dari luar. Penilaian-penilaian yang lebih lazim adalah ditujukan terhadap realisasi doktrin zuhud, faqr dan tawakal yang dinilai bertentangan dengan lazim dipergunakan, misal ketika mereka menterjemahkan zuhud dan scetisme’uzlah dengan escapism.
            Jalan kedua yang sebenarnya juga mendapatkan sorotan naïf, akibat kemunduran peradaan islam secara menyeluruh, adalah jalan keduniawian yang telah menggunakan sistemnya sendiri yang immporal. Pada akhirnya system ini akan mengalami kehancuran dan menjadi santapan setiap orang atau kelompok pesaing. Pemerintah dan institusi-institusi politik dengan menjadikan politik sebagai alat, kekuasaan untuk merampas keuntungan-keuntungan moral rakyat (‘awam al-Muslimin).
Jalan sufi yang seperti itu lazimnya dituduh sebagai depolitisasi umat islam dengan metode zuhud dan ‘uzlah. Para pengamat tarekat diajak untuk tidak melakukan kesibukan aktivitas keduniaan. Keadaan pemerintah yang dihiasi individualities yang telah meracuni sebagian besar umat islam atau sikap pasrah tak berdaya (tawakal) dari masyarakat lapisan ditinggalkan jauh-jauh dari kelompok tarekat dan mereka lebih memilih memisahkan diri dan mengisolir diri, uzlah jasadiyah ke pelosok-pelosok desa yang memberikan situasi sepi, aman dan terbebas dari kehidupan yang bersifat duniawi sehingga dapat dengan tenang ibadah kepada Allah (Mujahadah). Setelah merasakan benar-benar dekat (qurb) dan memiliki kesucian jiwa.
Meski demikian, para sufi dan guru-guru tarekat selalu berusaha mengajak umat islam untuk selalu sadar akan adanya Allah di dalam kehidupannya dan menjadikan pribadi-pribadi tangguh dan berkesadaran bahwa manusia di hadapan Allah bukan apa-apa dan Allah adalah maha segala-galanya. Dan dengan melalui jalan spiritual yang berdasarkan al-Qur’an dan al-Sunnah, menunjukan manusia mencapai kesucian yang dengan kesucian itu dapat mengetahui dan mendekati Allah yang suci.
Dengan memasuki tarekat berarti manusia telah melakukan olah batin atau pelatihan spiritual (Riyadhoh), berjuang dengan kesungguhan mengendalikan nafsu (Mujahadah), serta melakukan pensucian diri dari akhlak tercela (takholi), tahalli atau menghiasi diri dengan akhlak terpuji agar dapat mencapat tajlli dengan terbukannya pintu ma’rifatullah.

PERTUMBUHAN TAREKAT
            Secara harfiah, kata thoriqoh berarti sirah, madzhab, thbaqot dan maslakul mutashowwifah. Thoriqoh yang dimaksudkan adalah jalan para sufi untuk  mencapai tingkatan-tingkatan (maqomat) dalam usaha mendekatkan diri kepada Allah swt. dengan tujuan peleburan diri (‘fana) dengan al-Haq (Allah). Dengan kata lain, tarekat merupakan perpaduan antara iman dan islam dalam bentuk ihsan sebagai jalan yang khusus diperuntukkan bagi mereka yang mencari Allah.
            Secara essensial, iman adalah kepercayaan terhadap keesaan Allah dan islam adalah patuh kepada Allah terhadap segala kehendak Allah. Islam mengatur keduannya dan mentransformasikannya ke dalam ihsan. Sufi-sufi besar telah memberikan batasan tarekat sesuai dengan hadist tentang ihsan. Tarekat merupakan kebajikan atau ihsan pada iman dan islam. Iman yang dibentuk oleh ihsan akan melahirkan ‘irfan dan ma’rifat.
            Secara amaliah (praksis) tarekat tumbuh dan berkembang semenjak abad-abad  pertama hijrian dalam bentuk perilaku zuhud sesuai dengan al-Qur’an dan al-Sunnah. Zuhud ini bertujuan agar manusia dapat mengendalikan hawa nagsunya terhadap kenikmatan duniawiah secara berlebihan. Perilaku zuhud merupakan perwujudan dari salah satu aspek yang lazim ditempuh dalam tarekat (Mujahadah).
            Kelompok orang-orang zuhud kemudian membentuk perkumpulan atas dasar persaudaraan yang terorganisir (jami’yah) yang kegiatannya lebih mendahulukan amaliah nyata daripada perenungan-perenungan filasafis (kontemplasi atau meditasi) serta mempunyai khusus yang disebut syakh atau mursyid.
            Tarekat tumbuh menjadi persaudaraan orang-orang miskin atau pengemis (darwish) yang teratur secara sistematis. Orang-orang shaleh dengan kepribadian luar biasa yang memiliki mukjizat dan berbagai riyadhoh dan penerimaan murid dilakukan dengan upacara bay’at dan pemerian ijazah atau khirqoh.
            Sekarang, tarekat menjadi organisasi keagamaan kaum sufi dengan jumlah relative banyak dan nama yang berbeda-beda didasarkan pada pendiri atau pembuat wiridan atau hizb yang wilayah dakwahnya menyebar ke Asia Tengah, Asia Tenggara, Afrika timur, Afrika Utara, Afrika Barat, India, Irak dan turki serta Yaman, Mesir dan Syiria.

PENGARUH TAREKAT
            Ada dua persepsi yang berkembang tentang jam’iyah tarekat di Indonesia. Pertama, tarekat dianggap sebagai fanatisme guru yang dapat berubah menjadi fanatisme politik. Kedua, tarekat dinilai sebagai gejala depolitisasi, pelarian dari tanggung jawab social dan politik. Analisa ini memberikan pemahaman bahwa tarekat yang dikehendaki adalah sebuah gerakan kaum sufi dalam kegiatan social keagamaan.
            Dari segi tujuan, tarekat dapat dikategorisasikan menjadi dua kategori besar. Pertama, tarekat sebagai gerakan purifikasi dengasn ditekankan adanya kegiatan dan pengkajian yang lebih inworld logding dalam arti berusaha ke arah pemurnian, keselamatan dan kedamaian yang bersifat individualistik.  Kedua, tarekat dijadikan sarana mengartikulasikan diri terhadap lingkungan atau sebagai sarana berdialog dengan lingkungan social politik, membentuk tingkah laku bersama dalam mencoba menginterprestasikan lingkungan untuk dijawab dan diatasi.
            Para pengkritik menekankan aspek asketis dan ukhroti dalam tarekat karena sebagai gejala depolitisasi dan escapism serta sebagai gerakan purifikasi tarekat lebih berorientasi kepada urusan ukhroti daripada duniawi.
            Jika dikaitkan dengan misi awal tarekat yang mengajak manusia menuju pensucian jiwa, maka tarekat tidak memiliki kaitan dengan politik sama sekali. Olehkarena itu, tarekat menerima label a-politik untuk dirinya, dalam arti tidak memiliki ambisi atau tendesi untukmeraih kemenangan dan keberuntungan politis.
            Bagi masyarakat urban, tarekat bisa menjadi counter culture, yaitu budaya budaya tandingan terhadap perkembangan zaman, seperti arus teknologi dan globalisasi yang sedang berkembang. Bagi mereka, tarekat adalah institusi masyarakat yang sedang mengalami transformasi kehidupan desa atau pedesaan menuju kehidupan kota atau perkotaan yang sedang mengalami benturan budaya dan semua itu menyebabkan culture shock. Dengan tarekat, mereka tidak akan kehilangan identitas diri dan merekapun bias survive.
            Di sisi lain, sebagai gerakan popular, tarekat dinilai sebagai kemajuan dimana ia sangat bertentangan dengan cara-cara ulama ortodok dalam menilai keislaman seseorang. Hal itu terjadi karena sebagai gerakan popular, tarekat merupakan kejenuhan terhadap akidah ahli kalam yang kaku.
            Tarekat telah mengendorkan syarat keislaman yang ketat yang memberikan bahaya yang serius. Namun, di sisi lain, dinilai telah  mampu menampilkan kelembutan wajah islam yang luar biasa.
            Karena karakteristik tarekat lebih mendahulukan intuisi dari rasio, ia sering di tuduh sebagai peyebab stagnasi intelektualitas umat islam. Namun dibalik semua itu terdapat sisi-sisi sejarah yang menempatkan kelompok tarekat sebagai kelompok umat islam yang berperan positif-konstruktif. Ia mampu mendorong umat masyarakat perkotaan dengan kepedulian, keterlibatan spiritualitas dan jiwa keagamaan yang kuat.
            Catatan sejarah itu tidak berlebihan bila di anggap sebagai bukti sejarah tarekat dalam proses pembinaan persaudaraan dan kecintaan terhadap tanah air (nasionalisme) yang dipelihara dan dibina dengan moralitas keagamaan yang tinggi.

 NAMA – NAMA TAREKAT
1.      Tarekat pada Qodiriyah
Muhyi al-Din Abu Muhammad Abd al-Qodir bin Musa bin Abdullah bin Musa (470-561 H/ 1.077-1.166 M). Tarekat ini lebih dalam berkonsentrasi kepada ketauhidan dalam beribadah.
           Ajaran pokok tarekat Qodiriyah meliputi: bercita-cita tinggi (‘alum al-Hikmmah) dan mengagungkan nikmat dari Allah.

2.      Tarekat Rifa’iyah
Tarekat ini didirikan oleh Ahmad al Rifa’i ( W. 570 H – 1.173 H). Tarekat Rifa’iyah dipandang lebih fanatik, memiliki tata cara yang tetap dalam menaklukkan hawa nafsu dan pelatihan-pelatihan yang luar biasa.
Pengikut tarekat ini yang bisa melakukan dzikir dengan baik akan dapat memasuki alam fana’ , dalam keadaan fana’ itu dapat melakukan hal yang menakjubkan seperti sihir.
     Daya tarik tarekat Rifa’iyah adalah dalam kekhususannya sebagai berikut :
a.       Mempermudah proses menjadi anggota
b.      Dalam ilmu ketuhanan tarekat rifa’iyah cenderung bersikap seperti Madzhab Asy’ariyah. Dalam sifat-sifat dan nama-nama Allah yang mengharuskan tafwidh dan taqlid
c.       Kedudukan aspek sima’ dan intuisi sebagai sesuatu yang tidak diragukan eksistensi dan esensiasinya sebagai bagian dari ajaran sufistiknya
d.      Ahmad Rifa’i mengikari ajaran al-Hajj baginya sebagai tidak lebih dari seorang pendusta
e.       Menjadikan para pengikutnya mempunyai keutamaan dan kemulyaan tertinggi dalam bentuk kelebihan lahiriyah laksana kesaktian dan kedigjayaan.



3.      Tarekat Ahmaddiyah/badawiyah
Didirikan oleh Ahmad bin Aly al-Husainy al-Badawy, tarekat ini sangat konsisten dengan al-Qur’an dan Al-Sunnah. Tarekat Ahmaddiyah sangat diminati karena, mendorong pengikutnya untuk pandai, kaya dan saling mengasihi 
4.      Tarekat Syadzaliyah
Abu Hasan al-syadzaliyah (593 – 656 H / 1.196 – 1.258 M) adalah pendiri tarekat syadzawiyah. Keutamaan dalam tarekat ini terdapat pada lima ajaran pokok:
a.       Takwa kepada Allah dalam segala keadaan
b.      Konsisten dalam mengikuti al-sunah
c.       Ridho pada ketentuan dan pemberian Allah
d.      Menghormati sesama manusia dan,
e.       Taubat dalam keadaan senang maupun susah
Tiga landasan pokok dalam tarekat ini ialah:
a.       Mencari ilmu
b.      Memperbanyak dzikir kepada Allah
c.       Hudzur ilaa Allah
Ketiga pokok tersebut selalu menjadi penekan kepada pengikut tarekat syadzaliyah karena, baginya di dalam diri manusia itu ada nur asli atau nur potensial yang akan menjadi kuat, berkembang dan syukur bila diperkuat dengan nur ilmu yang lahir akibat dzikir kepada Allah.

5.      Tarekat Syattariyah
Tarekat ini mempunyai karakteristik tersendiri dalam keyakinannya. Nisbah al-Syattar yang berasal dari kata syatara yang berarti membelah dua, dalam hal ini yang dibelah dua ialah kalimat tauhid yang dihayati dalam dzikir naïf itsbat, la illaha (naïf) dan illa Allah (itsbat).

Istilah Syatar sendiri, menurut Najmuddin Kubra, adalah tingkat pencapaian spiritual tertinggi setelah akhyar dan abror. Syatar dalam tarekat ini ialah para sufi yang meniadakan dzat, sifat dan af’al (diri).

AJARAN DAN DZIKIR TAREKAT SYATTARIYAH
Perkembangan tarekat ini ditujukan untuk mengembengkan pandangan membangkitkankesadaran akan Allah SWT di dalam hati, tetapi tidak melaluitahap fana’. Jalan paling utama menurut tarekat ini adalah ja,an yg di tempuh kaum akhyar(orang-orang pilihan)dan kaum abror(orang-orang terbaik)serta menguasai rahasia-rahasia dzikir. Ada sepuluh aturan yg harus di capai untuk tujuan tarekat ini, yaitu: taubat,z uhud, tawakal, qona’ah, ’uzlah, sabar, ridho, dzikir dan musyahadah.  
            Dalam tarekat ini, dikenal tujuh macam  dzikir muqoddimah,sebagai tangga masuk dalam tarekat syattriayah.
a.       Dzkir thowah,yaitu: dzikir dengan memutar kepala mulai dari bahukiri menuju bahu kanan dengan mengucap laa illaaha sambil menahan nafsu.
b.      Dzikir nafi itsbat,yaitudzikir dengen mengucapkan laa ilaaha,dengan mengeraskan suara nafinya(la ilaaha) daripada itsbatnya(illa Allah).
c.       Dzikir istbat faqoth,yaitu: dzikir dengan lafa,yaitu: dzikir dengan lafadz illa Allah yang dihujamkan ke dalam hati sanubari
d.      Szikir Taraqqi, yaitu dzikir dengan lafadz Allahhu, Allahhu lafadz Allah diambil dari dalam dada dan lafadz Hu dimasukkan ke dalam bait al-Makmur (otak)
e.       Dzikir Tanazul yaitu dzikir huwa Allah, lafadz huwa di ambil dari bait al-makmur dan dimasukkan ke dalam dada.
f.       Dzikir ism al-Ghoyb, yaitu dzikir Huw…….. dengan mata dipejamkan dan mulut dikatupkan dan diarahkan ke tengah dada menuju dalam dada
g.      Dzikir ism al-Dzat, yaitu dzikir ini dengan lafadz Allah yang dihujamkan ke tengah-tengah dada, dimana tempat bersemayamnya roh yang menandai hidup dan kehidupan manusia.
 Adapun tujuh nafsu yang harus ditunggangi, yaitu:
a.       Nafsu ammaroh, tempatnya di dada sebelah kiri, nafsu ini memiliki sifat: serakah, hura-hura, berlebih-lebihan, dengki, dendam, bodoh, pamer, sombong, pemarah dan tidak mengetahui Allah.
b.      Nafsu Lawwamah, yaitu nafsu ini mempunyai sifat enggan, acuh, pamer, ujub, ghoibbah dan dusta.
c.       Nafsu Mulhamah, mempunyai sifat dermawan, qona’ah, sederhana, belas kasih, lemah lembut, tawadhu dan taubat.
d.      Nafsu Muthmainah, memiliki sifat senang bersedekah dan tawakal, senang ibadah, syukur, ridho dan takut kepada Allah
e.       Nafsu Rodhiyah, memiliki sifat zuhud, wara, riyadhoh dan menetapi janji
f.       Nafsu Mardiyah, memiliki sifat berakhlak mulia, bersih dari dosa dan rela menghilangkan kegelapan makhluk
g.      Nafsu Kamillah, mempunyai sifat ‘ilm al-yaqin, ‘ain al –yaqin dan haq al-yakin.

6.      Tarekat Naqsyabandiyah
Tarekat ini didirikan oleh Muhammad Baha’ al-din al-Naqsyabandiyah. Tarekat Naqsyabandiyah melakukan syariat secara ketat, keseriusan beribadah dan mengutamakan berdzikir dalam hati.

Asas-asas
a.       Hush dar dam: “sadar dalam bernafas.”
Sufi yang bersangkutan haruslah sadar dalam menarik nafas, menghembuskan nafas dan ketika berhenti diantara keduanya sadar akan Allah
b.      Nazar bar qadam: “menjaga langkah.”
Sewaktu berjalan haruslah menjaga langkah-langkahnya, sedang dudukpun memandang lurus ke depan supaya tujuan (ruhani)nya tidak dikacaukan oleh hal-hal di sekitar yang tidak relevan
c.       Safar dar watan: “Melakukan perjalanan di tanah kelahirannya.”
Melakukan perjalanan batin yakni meninggalkan bentuk ketidaksempurnaan sebagai manusia menuju kesadaran akan hakekatnya sebagai makhluk yang mulia
d.      Kholwat dar anjuman: “Sepi di tengah keramaian.”
Menyibukkan diri dengan berfikir terus-menerus tanpa memperhatikan hal yang lain walaupun di tengah keramaian
e.       Yad kard: “Ingat.”
Terus menerus berdzikir (mengingat) nama Allah
f.       Baz gasyt: “Kembali.”
Mengendalikan hati supaya tidak condong kepada hal yang menyimpang
g.      Nigah dasyt: “Waspada.”
Menjaga pikiran dan perasaan sewaktu berdzikir, untuk mencegah pikiran dan perasaan menyimpang dari kesadaran yang tetap akan Allah
h.      Yad dasyt: “Mengingat kembali.”
Penglihatan yang diberkahi bahwa segalanya berasal dari Allah yang esa dan beraneka ragam ciptaan terus berlanjut tak terhingga.


TAREKAT KHOLWATIYAH
            Pendiri tarekat ini adalah Muhammad al-Kholwati (w 717 H ).
Ajaran dan dzikir  tarekat kholwatiyah menetapkan adanya amalan yang disebut al-Ama’ al-sa’ah (tujuh nama) tersebut ialah:
a.       Dzikir Laa ilaaha illa Allah
Dzikir ini disebut al naf al-ammaroh (nafsu yang mengacu keburukan). Jiwa ini di anggap jiwa yang sangat kotor dan selalul mengacu untuk selalu berbuat maksiat dan dosa.
b.      Dzikir Allah
Disebut al nafs al-Lawwamah (jiwa yang menegur). Jiwa ini di anggap jiwa yang sudah bersih dan selalu mengacu kepada kebaikan-kebaikan
c.       Dzikir Huwa
Disebut al nafs al-Mulwammah (jiwa yang terilhami) Jiwa ini di anggap jiwa yang sedang bersih dan sudah mendapat ilham dari Allah swt.
d.      Dzikir Haq
Disebut al nafs al-Muthmainah (jiwa yang tenang)
Selain jiwa ini sudah bersih juga di anggap tenang dalam menghadapi masalah hidup maupun goncangan jiwa lainnya



e.       Dzikir Hay
            Disebut al nafs ar-rodhiyah (Jiwa yang di ridhoi ) Selain jiwa ini semakin bersih, tenang, ridho (rela) terhadap apa yang menimpa pemiliknya, karena semua berasal dari Allah
f.       Dzikir Qoyyum
Disebut al nafs mardhiyyah (jiwa yang diridhoi) Selain jiwa ini semakin bersih, tenang, ridho terhadap semua pemberian Allah juga mendapat keridhoan-Nya.
g.      Dzikir Qohhar
Disebur al nafs al-kharimah (jiwa yang sempurna) Inilah jiwa yang terakhir atau puncak jiwa yang paling sempurna dan akan terus mengalami kesempurnaan selama hidupnya.

PENERAPAN TAREKAT
Seseorang tidak akan sampai kepada hakikat tujuan ibadah sebelum menempuh jalan itu.Jalan itulah yang dinamakan dengan “tarekat”.Jalan yang harus ditempuh seorang sufi tidaklah licin,tetapi sulit dan penuh dengan duri.Dalam perjalanan menuju tujuan itu,salik harus ikhlas,muraqabah,muhasabah dan tarrajud.Jalan yang harus ditempuh seorang sufi atau salik sangat panjang yang berisi stasion – stasion yang disebut dengan “maqamat”.Untuk berpindah dari stasion yang satu ke stasion yang lain memerlukan usaha yang sungguh – sungguh dan dalam waktu yang tidak singkat.
Langkah pertama yang harus dilakukan adalah taubat dari segala dosa,baik dosa besar maupun dosa kecil,yang makruh maupun yang subhat,dan dengan sebenar – benarnya taubat.Langkah kedua adalah zuhud,hidup sederhana,hidup bertapa,dalam arti tidak cinta dunia.Langkah ke tiga adalah sabar dalam segala – galanya.Sabar menjalankan perintah-Nya,sabarmenjauhi larangan-Nya,sabar menerima segala cobaan dan sabar menunggu pertolongan.Langkah keempat adalah tawakal berikutnya ridho  kemudian makrifat dan mahabbah (cinta).














DAFTAR PUSTAKA

Drs. H. A. Mustofa. Akhlak Tasawuf.1999.CV. Pustaka : Setia Bandung
http://rd. wikipedia.org/wiki/tarekat.
Pengantar tasawuf Islam. Drs. H. Suteja, M.Ag. Cirebon, 2008. Pangger Press.













TAREKAT

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Terstruktur
Mata Kuliah : Akhlak Tasawuf
Dosen Pengampu



Description: F:\MY DOCUMENT\My Pictures\My Pictures\Logo\IAIN SYEKH NURJATI.jpg
 







Disusun oleh :
Kelompok 2
1.      Mawar Jannati Al Fasiri
2.      Erin Rismaya
3.      Nurul Qomar


INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
SYEKH NURJATI  CIREBON
2011

TAREKAT
PENGERTIAN TAREKAT
 Kata tarekat berasal dari bahasa arab yaitu thariqah ,yang berarti “jalan” atau ”metode” dan mengacu pada aliran keagamaan tasawuf.Tarekat secara konseptual terkait dengan haqiqah atau kebenaran sejati,yaitu cita-cita ideal yang ingin dicapai oleh para pelaku aliran tersebut.Serang penuntut ilmu agama akan memulai pendekatanya dengan mempelajari hukum islam,yaitu duniawi islam dan kemudian berlanjut pada jalan pendekatan mistis keagamaan yang berbentuk tariqah.Calon penghayat tarekat islam akan berupaya untuk mencapai haqiqah (hakikat atau kebenaran hakiki) dengan melalui praktik spiritual dan bimbingan seorang pemimpin tarekat.
Menurut Al – Jujani ‘Ali bin Muhammad ‘Ali,tarekat adalah metode khusus yang dipakai oleh salik (para penempuh jalan) menuju Allah Ta’ala melalui tahapan –tahapan atau maqamat.
Dengan demikian tarekat mempunyai dua pengertian, pertama ia berarti metode pemberian bimbingan spiritual kepada individu dalam mengarahkan kehidupannya menuju kedekatan diri kepada Tuhan.Kedua.tarekat sebagai persaudaraan kaum sufi yang ditandai dengan adanya lembaga formal seperti zawiyah,ribath atau khanaqah.
Tarekat mempunyai tiga sistem,yaitu sistem kerahasiaan,sistem kekerabatan (persaudaraan) dan sistem hirarki seperti khalifah tawajjuh atau khalifah suluk,syekh atau mursyid,wali atau qutub.Ajaran wasilah dan silsilah memperkokoh guru tarekat.Keyakinan berwasilah dengan guru dipererat dengan kepercayaan kharamah dan barakah atau syafa’ah.
Pengertian di atas menunjukkan tarekat sebagai cabang atau aliran dalam paham tasawuf.Pengertian itu dapat ditemukan pada Al-Thariqah,Al-Mu’tabarah,Al-Ahadiyah,Tarekat Qadariyah,Tarekat Naksibandiyah,Tarekat Rifa’iaah dll.Kata tarekat di Indonesia ada juga yang digunakan sebagai sebutan atau nama paham mistik yang dianutnya dan tidak ada hubungannya secara langsung dengan paham tasawuf atau dengan tarekat besar dan kenamaan.Misalnya Tarekat Sulaiman Gayam (Bogor),Tarekat Khalawatiah Yusuf (Sulawesi Selatan) boleh dikatakan meminjam sebutannya saja.
Kaum sufi berpendapat bahwa terdapat empat tingkatan spiritual umum dalam islam yaitu syari’at,tariqah,haqiqah dan makrifat.Tingkatan yang keempat merupakan tingkatan yang tak terlihat dan dianggap sebagai inti dari wilayah hakikat,sebagai esensi dari seluruh tingkatan kedalaman spiritual beragama tersebut.
Asy – Syekh Muhammad Amin Al – Kurdiy mengemukakan tiga macam definisi tarekat,yaitu:
1.      Tarekat adalah pengalaman Syari’at dalam melaksanakan beban ibadah dengan tekun dan menjauhkan diri dari sikap mempermudah ibadah,yang sebenarnya memang tidak boleh dipermudah.
2.      Tarekat adalah menjauhi larangan dan melakukan perintah Tuhan sesuai dengan kesanggupannya,baik larangan dan perintah yang nyata atau tidak (bathin)
3.      Tarikat adalah meninggalkan yang haram dan yang makruh,memperhatikan hal –hal yang mubah yang sifatnya mengandung fadillah,menunaikan hal-hal yang diwajibkan dan yang disunnahkan sesuai dengan kesanggupan pelaksana dibawah bimbingan dari sufi yang mencita – citakan suatu tujuan.
L. Massignon pernah mengadakan penelitian terhadap kehidupan tasawuf di beberapa negara islam,dari penelitiannya ia berkesimpulan bahwa istilah tarekat mempunyai dua macam pengertian,yaitu:
1.      Tarekat yang diartikan sebagai pendidikan kerohanian yang sering dilakukan oleh orang – orang yang menempuh kehidupan tasawuf untuk mencapai suatu tingkatan kerohanian yang disebut  “Al – Maqamat dan Al – Ahwal”.
2.      Tarekat yang diartikan sebagai perkumpulan yang didirikan menurut aturan yang telah dibuat oleh seorang Syekh yang menganut suatu aliran tarekat tertentu.Maka dalam perkumpulamn itulah seorang Syekh mengajarkan ilmu tasawuf yang dianutnya,kemudian diamalkan bersama muriud – muridnya.
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa tarekat itu dapat dilihat dari dua sisi,yaitu amaliyah dan perkumpulan (organisasi).Sisi amaliyah merupakan latihan kejiwaan (kerohanian) baik yang dilakukan oleh seseorang maupun secara bersama –sama melalui aturan – aturan tertentu untuk mencapai suatu tingkatan kerohanian yang disebut “Al – Maqamat” dan “Al – Ahwal” ,kedua istilah ini ada segi perbedaanya.Suluk adalah latihan kerohanian, jika dilihat dari sisi amalnya maka pengertian tarekat dan suluk adalah sama.Tetapi jika dilihat dari segi organisasinya tentu saja pengertian tarekat dan suluk itu berbeda.
Al – Maqamat dan Al – Ahwal dapat dibedakan dari dua segi,yaitu:
1.      Tarekat kerohanian yang disebut maqam hanya dapat diperoleh dengan cara pengalaman ajaran tasawuf yang sungguh – sungguh.Sedangkan ahwal disamping dapat diperoleh manusia yang mengamalkannya,dapat juga diperoleh manusia hanya karena semata – mata anugerah dari Tuhan meskipun ia tidak pernah mengajarkan ajaran tasawuf secara sungguh – sungguh.
2.      Tingkatan kerohanian yang disebut maqam sifatnya langgeng,sedangkan ahwal bersifat sementara.Ahwal biasannya sering ada pada diri manusia dan sering pula hilang.
Menurut Abu Nashr As – Sarraj tingkatan maqam ada 7,yaitu:
1.    Tingkatan pengawasan diri (Al – Muraqabah)
2.    Tingkatan kedekatan atau kehampiran diri ( Al – Qurbu)
3.    Tingkatan cinta (Al – Mahabbah)
4.    Tingkatan takut (Al –Khauf)
5.    Tingkatan harapan (Ar – Raja)
6.    Tingkatan kerinduan(Asy – Syauq)
7.    Tingkatan senang mendekat perintah Allah (Al – Unsu)
8.    Tingkatan ketenangan jiwa (Al – Itmi’nan)
9.    Tingkatan perenungan (Al – Musyahadah)
10.       Tingkatan kepastian ( AL – Yaqin)
         Menurut Abu Said bin Abil Khair tingkatan maqam ada 40,yaitu:
1)      Tingkatan niat (An – Niyat)
2)      Tingkatan penyesalan (Al – Inabah)
3)      Tingkatan Taubat(At –Taubah)
4)      Tingkatan penguasaan diri (Al – Iradah)
5)      Tingkatan perjuangan bathin (Al – Mujahadah)
6)      Tingkatan pengontrolan diri (Al – Muraqabah)
7)      Tingkatan sabar (As – Sabru)
8)      Tingkatan dzikir (Az –Zikru)
9)      Tingkatan kerelaan hati (Ar –Rida)
10)  Tingkatan upaya melawan nafsu (Mukhlafatun Nafsi)
11)  Tingkatan sikap setuju (Al -  Muwafaqah)
12)  Tingkatan penyerahan diri (At – Taslim)
13)  Tingkatan tawakal ( At – Tawakkul)
14)  Tingkatan meninggalkan kesenangan dunia (Az – Zuhdu)
15)  Tingkatan pengabdian kepada Tuhan (Al – Ibadah)
16)  Tingkatan menghindari yang haram,makruh dan syubhat ( Al – Wara)
17)  Tingkatan keikhlasan (Al – Ikhlas)
18)  Tingkatan terpercaya (As – sidqu)
19)  Tingkatan takut (Al – Khauf)
20)  Tingkatan pengharapan (Ar – Raja)
21)  Tingkatan perniagaan diri (Al – Fana)
22)  Tingkatan perasaan hidup kekal (Al – Baqa)
23)  Tingkatan ilmu yang diyakini kepastiannya (Ilmu Yaqin)
24)  Tingkatan kebenaran yang diyakini kepastiannya (Haqqul Yaqin)
25)  Tingkatan pengenalan terhadap Tuhan (Al – Ma’rifah)
26)  Tingkatan perjuangan jiwa (Al – Jahdu)
27)  Tingkatan penguasaan diri untuk tetap suci ( Al – Wilayah)
28)  Tingkatan cinta (Al – Mahabbah)
29)  Tingkatan perasaan selalu berdampingan dengan Tuhan (Al – Wijdu)
30)  Tingkatan perasaan menghampiri Tuhan (AL – Qurbu)
31)  Tingkatan tafakur (At – Tafakkur)
32)  Tingkatan perasaan sudah sampai kepada Tuhan ( Al – Wisal)
33)  Tingkatan ketersingkapan tirai (Al – Kasyfu)
34)  Tingkatan yang selalu ingin melayani keinginan yang luhur (Al –Khidmah
35)  Tingkatan bersih diri (At – Tajrid)
36)  Tingkatan perasaan kesendirian (At – Tafrid)
37)  Tingkatan perasaan selalu dalam keadaan suka cita (AlImbisat)
38)  Tingkatan  penentuan yang benar (At-Tahqiq)
39)  Tingkatan perasaan berada pada tujuan yang luhur (An-Nihayah)
40)  Tingkatan kebersihan sikap dan perilaku (At-Tasawuf)


Timbulnya hasrat bagi ulama sufi untuk mengorganisir pengikut-pengikutnya, lalu mengisi jiwanya dengan sifat-sifat yang senang meninggalkan kemewahan dunia karena dilatarbelakangi oleh kemewahan dunia karena dilatarbelakangi oleh kemewahan umat Islam di Baghdad sekitar abad ke-III sampai abad ke IV Hijriyah yang waktu itu manusia lebih banyak perhatiannya terhadap kehidupan yang mewah dari pada kehidupan keagamaan. Dengan demikian, maka pengertian tarekat ditunjukan kepada organisasinya dan ajaran-ajaran yang diterima oleh muridnya pada perkumpulan itu, tidak ditunjukkan pada pengalamannya. Karena pengalaman ajaran yang telah diterimanya disebut “suluk” bukan lagi tarekat.

ISTILAH TAREKAT
Ada beberapa istilah tarekat, diantaranya adalah :
1)      Syariat
Kata “syariat” berarti perjalanan atau peraturan, maksudnya para ahli tarekat berpendapat berupa amalan-amalan lahir, misalnya sholat, puasa, zakat dan lain sebagainya.
2)      Hakikat
Kata “hakikat” berarti puncak atau kesudahan atau asal sesuatu arti lain dari hakikat adalah kebalikan syari’at yaitu yang berhubungan dengan batin.
3)      Ma’rifat
Kata “Marifat”  berarti pengetahuan atau pengalaman menurut istilah ma’rifat adalah pengetahuan dalam mengerjakan syariat dan hakikat. Para ahli tarekat berpendapat bahwa ma’rifat adalah sifat sufi yang bertingkat-tingkat, dari tingkat talib, murid, salik dan wasil. Jadi apabila telah berada kehadirat ilahi maka ia disebut ahli ma’rifat.
4)      Tarikat
Kata “Tarikat” berarti jalan. Menurut istilah tarikat adalah jalan atau cara yang ditempuh menuju keridhoan Allah.
5)      Suluk
Kata “suluk” berarti menempuh perjalanan. Menurut istilah suluk adalah ikhtiar (Usaha) dalam menempuh jalan untuk mencapai tujuan tarekat. “salik” adalah orang yang menjalankan ikhtiar.
6)      Manazil
Artinya tempat-tempat perhatian yang dilalui salik yang melaksanakan “suluk”.
·         Marsyahid
Yaitu hal-hal yang terlihat pada perjalanan di tengah sedang menjalankan suluk
·         Maqamat
Yaitu derajat-derajat yang dieproleh dengan usaha sendiri
·         Kasbiyah
Yaitu derajat-derajat yang diperoleh semata-mata dengan anugerah Allah yang disebut “al-ahwal” atau “mauhibiyah”.


Istilah-istilah diatas disebut empat bagian ketika memasuki tasawuf.
7)      Zawiyah
Zawiyah adalah suatu tempat untuk mendidik calon-calon sufi. Zawiyah disebut juga sebagai tempat latihan tarekat yang dilengkapi dengan mihrab untuk sholat. Madrasah merupakan wujud zawiyah besar “Ribat” adalah zawiyah yang indah yang dimiliki tarekat besar di Persi.
8)      Jika zikir nafi isbat
Ahli tarikat memberi tiga tingkat pengertian terhadap kalimat “la Ilaha Illallah”, yaitu :
·         Tiada Tuhan melainkan Allah
·         Tiada ma’bud melainkan Allah
·         Tiada maujud melainkan Allah
9)      As-Sukr
As-Sukr maksudnya sebagai salah satu sikap dalam ibadah dan khalwat. Sehingga orang itu tidak sadar lagi akan dirinya.
-          Al-Fana
Alfana adalah lupa terhadap segala sesuatu ketika beribadah kecuali yang disembahnya.
10 )  - Uslah
Uslah yaitu salah satu praktek suluk dengan mengasingkan diri dari khalayak ramai yang berbuat maksiat.


-        Khalwat
       Khalwat sebagai salah satu rangkaian dalam suluk dengan jalan menyendiri di tempat yang sunyi atau bertapa.
11)   Kasyaf
Kasyaf adalah terbukanya dinding antara hamba dengan Tuhan dalam tarikat. Menurut ahli tarekat ada empat dinding pembatas antara khalik dengan makhluk-Nya diantaranya yaitu :
12)   Najis dan hadast
13)   Haram dan makruh
14)   Akhlak yang tercela
15)   Kelainan terhadap Tuhan karena pengaruh dunia.
16)   Silsilah
Silsilah adalah nisbah (hubungan) guru-guru tarekat sambung menyambung dari bawah ke atas yang perlu diketahui oleh para pengikut tarekat.
17)   Khirq’ah
Khirqah adalah semacam ijazah yang diberikan kepada murid setelah mencapai suatu tahap dalam pengetahuan. Pada saat pemberian khirqah biasanya dibarengi dengan pemberian “wasiat” yaitu pesan-pesan penting dan khusus yang diberikan guru kepada muridnya.



18)   Wali
Wali adalah seseorang yang telah mencapai tingkat kesucian yang tinggi setelah melalui suluk. Sebagai bukti-bukti dari kewaliannya, dia mempunyai kelebihan-kelebihan tertentu.
19)  Keramat
Keramat adalah keistimewaan yang dimiliki oleh seorang wali tersebut.
20)  Beberapa ahli tarekat percaya adanya wali-wali besar, antara lain:
1.       Al-Ghauis (Mekah)
2.       Al-Autad (menjaga keselamatan dunia)
3.       Al-Aqtab (berjumlah tujuh)
4.       An-Nujaba (berjumlah tiga ratus).

Namun apabila diteliti di dalam Al-Qur’an dan al-hadist yang shahih tidak ada, maka termasuk khayalan (khurafat).

TOKOH-TOKOH TAREKAT DI DUNIA ISLAM MAUPUN DI INDONESIA
                   Ada beberapa peristilahan yang sering jumpai dalam tarekat yang bersifat perkumpulan, misalnya:
1)      Istilah syekh atau Mursyid, maksudnya adalah guru tarekat.
2)      Khalifah, maksudnya adalah wakil syekh atau Mursyid.
3)      Murid maksudnya adalah pengikut ajaran tarekat
4)      Baiat, maksudnya perjanjian atau sumpah setia murid kepada gurunya   ketika murid mulai memasuki perkumpulan  tarekat.
5)      Wasilah atau Rabitah, maksudnya adalah perantara guru (Syekh) dengan muridnya sehingga setiap amalan gurunya selalu dijadikan wasilah atau Rabitah oleh murid-muridnya.
6)      Suluk maksudnya adalah mengamalkan ajaran-ajaran yang telah diterima muridnya dari gurunya sebagai sarana latihan jiwa untuk mencapai suatu maqam dalam tarekat.
7)      Ijazah, maksudnya adalah sebuah penghargaan guru kepada muridnya berupa keterangan tertulis disertai dengan tanda tangan, silsilah tarekat dan simbol-simbol lain misalnya sepotoong kain yang disebut “Khiqatut Tabaruk”.

Ada macam-macam tarekat beserta para pendirinya, diantaranya adalah :
1)      Tarekat qadariyah, yang dinisbatkan kepada Asy-Syekh Abdul Qadir Jailani sebagai pendirinya.
2)      Tarekat Rifa’iyah, yang dinisbatkan kepada Asy-Syekh Ahmad Rifa’i
3)      Tarekat Maulawiyah, yang dinisbatkan kepada Asy-Syekh Maulana Jalaluddin Ar-Rumi.
4)      Tarekat Syaziliyah, yang dinisbatkan kepada Asy-Syekh Abul Hasan Ali bin Abdil Jabbar Asy-Syazali.
5)      Tarekat badawiyah yang dinisbatkan kepada Asy-Syekh Ahmad al-Badawi.
6)      Tarekat As-Suhrawardiyah, yang dinisbatkan kepada Asy-Syekh Umar As-Suhrawardi.
7)      Tarekat Naqsyabandiyah, yang dinisbatkan kepada Asy-Syahalah Bahauddin Muhammad bin Hasan An-Naqsabandi.
8)      Tarekat syattariyah, yang dinisbatkan kepada Asy-Syekh Abdul Barakat Ayyub bin Muhammad Al-Khalwati Al-Qursisyi, dll.
Disamping tokoh diatas, di Indonesia ada ulama yang menyerang dan memberi himbauan terhadap tasawuf dan tarekat, yaitu :
1)      Ustadz S.A Al-Hmadnai
       Beliau menyerang tasawuf dan tarekat dalam bukunya yang berjudul “Sanggahan terhadap tasawuf dan ahli sufi “terbitan Al-Ma’arif” Bandung. Beliau mempunyai kesimpulan bahwa tarekat dan tasawuf itu merupakan bid’ah.
2)      Prof. Dr. Hamka
       Dalam beberapa kitab tasawuf yang dikarangnya beliau mengakui bahwa tasawuf banyak dirusak orang dalam bentuk bid’ah dan sebagainya. Maka beliau menghimbau agar tasawuf baik isi dan prakteknya kembali kepada Al-Qur’an dan Al-Hadist.
                    Dalam suatu tarekat terdapat Syekh atau Mursyid yaitu guru yang memberikan petunjukan mengenai riyadhah atau latihan-latihan dalam melakukan zikir, dalam memperbaiki penyakit-penyakit jiwa (amradhul qulub/radza ‘ilul qulub), dalam berkhalwat, tawajjuh dari lain sebagainya.
            Tuhan adalah maha suci, untuk bertemu atau ma’rifat Allah, seorang sufi atau salik harus suci. Suci menurut Imam Al-Ghozali mempunyai empat yaitu:
1)      Mensucikan lahir dari hadast dan najis serta kotoran-kotoran
2)      Mensucikan dari dosa-dosa besar dan kecil
3)      Mensucikan jiwa (al Qalb) dari sikap dan tingkah laku yang tercela.
4)      Mensucikan hati nurani dari salin Allah SWt.
            Untuk dapat mempermudah menempuh jalan panjang yang harus dilalui tersebut seorang sufi harus selalu berdzikir/ ingat kepada Allah Swt. Seorang  sufi harus selalu berlatih melalui petunjuk seorang mursyid.

MENGENAL TAREKAT SUFI
            Dalam pandangan sufi tarekat merupakan media untuk mencapai tujuan “dekat dengan Allah”. Dengan menghimpun tugas-tugas murid dalam ikhtiar perbaikan diri dan pensucian jiwa. Dengan kata lain, tarekat dalam pandangan sufi merupakan istilah bagi praktek dzikir berdasarkan kurikulum pembelajaran. Tarekat adalah cara yang dilakukan oleh kaum sufi dalam mencapai tujuan yang dikehendaki.
            Secara harfiah, tarekat berarti jalan atau metode sama seperti syariah, sabil, shirath atau manhaz yaitu jalan menuju kepada Allah guna mendapatkan ridho-Nya. Penanaman thariqoh di ambil dari Al-Qur’an yang artinya “dan bahwasanya: jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama islam), benar-benar kami akan memberi minuman kepada mereka air yang segar (rezeki yang banyak). Q.S al-Jin:16


a.       Jami’iyah Thoriqoh Pertama
Organisasi thoriqoh pertama kali di ciptakan oleh Muhammad Ahmad al-Muhaymiy (385 - 430 H) dikenal dengan sebutan Abu Sa’id. Di negerinya ia memperkasai adanya silsilah thariqoh sufi secara genetic dan menetapkan khaidah-khaidah untuk para darwisy dengan membangun beberapa pondok khusus para murid sufi di sekitar rumahnya.
 Abu sa’id adalah salah seorang murid Abdul Rahman al-sulami seorang pengarang kitab thoraqot. Untuk pertama kalinya ia mendapat ijazah tasawuf dari al-sulami, sebelum kemudian ia juga mendapatkan ijazah dari abu al-‘abbas al qoshob.
Terkenalnya aliran-aliran seperti Qodariyah dan rifaiyah di Irak, ahmaddiyah, syadzaliyah dan Dasuqiyah di Mesir karena berkembangnya organisasi thoriqoh secara luas yang menyeberang dari Iran ke wilayah Timur Arab di abad kelima dan keenam hijriah.

b.      Makna asal thoriqoh
Awal mulanya thoriqoh diciptakan sebagai metode seorang syakh yang sedang menekuni dunia tasawuf yang mempunyai keinginan mencapai derajat syakh murabbi dan derajat kewalian seperti quthb, ghowts, awtad dan abdal.

c.       Syakh Thoriqoh
Sanad keilmuan tasawuf yang bersambung kepada guru-guru salaf sampai kepada al Juanyd al-Baghdadi dan terakhir kepada Rasulullah saw. diterapkan syakh thoriqoh pada dirinya. Sedangkan yang sanadnya terputus kemudian menciptakan thariqoh baru yang semua nama dan ketentuannya dibuat sendiri berdasarkan nama pendirinya. Bahkan mereka meyakini bahwa bentuk wiridan dan dzikirnya merupakan suatu karuania agung yang diperoleh secara langsung melalui ilham baik melalui Rasulullah maupun khidhir.
      Syakh merasa apa yang terjadi pada dirinya merupakan suatu keistimewaan yang belum tentu akan dimiliki orang kebanyakan. Mereka merasa dirinya mempunyai kharomah, kasyaf ilmu dan derajat kewalian. Olehkarena itu, pemilihan seorang syakh dalam tradisi thoriqoh dilakukan berdasarkan karomah yang dimiliki seorang syakh bukan didasarkan kepada keilmuan dan keshalehan seseorang.
      Mursyid adalah orang yang mempunyai hubungan silsilah dengan guru-guru sebelumnya hingga sampai kepada Nabi Muhammad saw. Pengertian silsilah disini ialah hubungan keturunan ilmu tarekat dari satu guru ke guru thariqot yang lain.
     
d.      Sanad / silsilah dzikir thoriqoh
Dzikir thoriqoh yang pertama kali diajarkan adalah Allahu…Allahu….Allahu….. dan pertama kali diajarkan oleh Ali bin Abu Tholib sesuai dengan terimanya dari Rasulullah saw. kepada Hasan al-Bashri. Hasan al-Bashri kemudian mengajarkannya kepada Habib al-Ajami, Habib al-Ajami mengajarkannya kepada Dawud, Dawud mengajarkannya kepada Ma’ruf, Ma’ruf mengajarkannya kepada al-saqothy dan al-saqothy mengajarkannya kepada al-Junayd.
Pengulangan lafadz Allahu memiliki tujuan khusus yaitu agar dapat secara bertahap menuju Allah (Tawajjuh) dan hanya memandangi Allah, melenyapkan segala yang ada selain Allah dalam tataran ilmu, segala menghilangkan segala bisikan selain Allah dari dalam hati.

Dinamika Thariqoh (Thoriqoh Sufi)
Kemunduran islam telah menyebabkan jalan lurus menuju islam terpecah menjadi dua, yaitu jalan keduniawian dan jalan keshalehan. Kedua jalan itu selalu berlawanan. Jalan yang satu dipandang terpuji dan mengandung semua nilai religius dan etis, sedangkan jalan yang lainnya dipandang terkutuk dan mengandung nilai-nilai materialistis. Semua itu diakibatkan oleh pemikiran umat islam yang tidak lagi menyatu dengan tindakan dan prilaku keagamaan mereka. Kedua jalan itu mengalami transformasi. Jalan pertama berubah menjadi spiritualitas hampa, sama dengan spiritualitas kosong dan kerahiban kristiani dan budha, suatu spiritualitas yang tidak merasa berkepentingan dengan kesejahteraan masyarakat dan tidak berusaha mewujudkan keadilan di dunia yang semakin semrawut (sangat individulistik). Ia juga tergoda pada gnonis dan pengalaman-pengalaman mistik. Tidak terbayangkan oleh para syakh pendiri tarekat-tarekat sufi dan peletak dasar-dasar ideologis, jika persaudaraan atau perkumpulan mereka akan menyimpang sedemikian rupa dan menyimpang jauh karena memperkembangkan etik dan tujuan peribadatan yang bertentangan dengan islam.
            Penilaian sepihak itu juga datang dari sekelompok cendikiawan yang mengaku, menganut dari jauh praktek pelaksanaan doktrin tarekat dengan pengamatan dari luar. Penilaian-penilaian yang lebih lazim adalah ditujukan terhadap realisasi doktrin zuhud, faqr dan tawakal yang dinilai bertentangan dengan lazim dipergunakan, misal ketika mereka menterjemahkan zuhud dan scetisme’uzlah dengan escapism.
            Jalan kedua yang sebenarnya juga mendapatkan sorotan naïf, akibat kemunduran peradaan islam secara menyeluruh, adalah jalan keduniawian yang telah menggunakan sistemnya sendiri yang immporal. Pada akhirnya system ini akan mengalami kehancuran dan menjadi santapan setiap orang atau kelompok pesaing. Pemerintah dan institusi-institusi politik dengan menjadikan politik sebagai alat, kekuasaan untuk merampas keuntungan-keuntungan moral rakyat (‘awam al-Muslimin).
Jalan sufi yang seperti itu lazimnya dituduh sebagai depolitisasi umat islam dengan metode zuhud dan ‘uzlah. Para pengamat tarekat diajak untuk tidak melakukan kesibukan aktivitas keduniaan. Keadaan pemerintah yang dihiasi individualities yang telah meracuni sebagian besar umat islam atau sikap pasrah tak berdaya (tawakal) dari masyarakat lapisan ditinggalkan jauh-jauh dari kelompok tarekat dan mereka lebih memilih memisahkan diri dan mengisolir diri, uzlah jasadiyah ke pelosok-pelosok desa yang memberikan situasi sepi, aman dan terbebas dari kehidupan yang bersifat duniawi sehingga dapat dengan tenang ibadah kepada Allah (Mujahadah). Setelah merasakan benar-benar dekat (qurb) dan memiliki kesucian jiwa.
Meski demikian, para sufi dan guru-guru tarekat selalu berusaha mengajak umat islam untuk selalu sadar akan adanya Allah di dalam kehidupannya dan menjadikan pribadi-pribadi tangguh dan berkesadaran bahwa manusia di hadapan Allah bukan apa-apa dan Allah adalah maha segala-galanya. Dan dengan melalui jalan spiritual yang berdasarkan al-Qur’an dan al-Sunnah, menunjukan manusia mencapai kesucian yang dengan kesucian itu dapat mengetahui dan mendekati Allah yang suci.
Dengan memasuki tarekat berarti manusia telah melakukan olah batin atau pelatihan spiritual (Riyadhoh), berjuang dengan kesungguhan mengendalikan nafsu (Mujahadah), serta melakukan pensucian diri dari akhlak tercela (takholi), tahalli atau menghiasi diri dengan akhlak terpuji agar dapat mencapat tajlli dengan terbukannya pintu ma’rifatullah.

PERTUMBUHAN TAREKAT
            Secara harfiah, kata thoriqoh berarti sirah, madzhab, thbaqot dan maslakul mutashowwifah. Thoriqoh yang dimaksudkan adalah jalan para sufi untuk  mencapai tingkatan-tingkatan (maqomat) dalam usaha mendekatkan diri kepada Allah swt. dengan tujuan peleburan diri (‘fana) dengan al-Haq (Allah). Dengan kata lain, tarekat merupakan perpaduan antara iman dan islam dalam bentuk ihsan sebagai jalan yang khusus diperuntukkan bagi mereka yang mencari Allah.
            Secara essensial, iman adalah kepercayaan terhadap keesaan Allah dan islam adalah patuh kepada Allah terhadap segala kehendak Allah. Islam mengatur keduannya dan mentransformasikannya ke dalam ihsan. Sufi-sufi besar telah memberikan batasan tarekat sesuai dengan hadist tentang ihsan. Tarekat merupakan kebajikan atau ihsan pada iman dan islam. Iman yang dibentuk oleh ihsan akan melahirkan ‘irfan dan ma’rifat.
            Secara amaliah (praksis) tarekat tumbuh dan berkembang semenjak abad-abad  pertama hijrian dalam bentuk perilaku zuhud sesuai dengan al-Qur’an dan al-Sunnah. Zuhud ini bertujuan agar manusia dapat mengendalikan hawa nagsunya terhadap kenikmatan duniawiah secara berlebihan. Perilaku zuhud merupakan perwujudan dari salah satu aspek yang lazim ditempuh dalam tarekat (Mujahadah).
            Kelompok orang-orang zuhud kemudian membentuk perkumpulan atas dasar persaudaraan yang terorganisir (jami’yah) yang kegiatannya lebih mendahulukan amaliah nyata daripada perenungan-perenungan filasafis (kontemplasi atau meditasi) serta mempunyai khusus yang disebut syakh atau mursyid.
            Tarekat tumbuh menjadi persaudaraan orang-orang miskin atau pengemis (darwish) yang teratur secara sistematis. Orang-orang shaleh dengan kepribadian luar biasa yang memiliki mukjizat dan berbagai riyadhoh dan penerimaan murid dilakukan dengan upacara bay’at dan pemerian ijazah atau khirqoh.
            Sekarang, tarekat menjadi organisasi keagamaan kaum sufi dengan jumlah relative banyak dan nama yang berbeda-beda didasarkan pada pendiri atau pembuat wiridan atau hizb yang wilayah dakwahnya menyebar ke Asia Tengah, Asia Tenggara, Afrika timur, Afrika Utara, Afrika Barat, India, Irak dan turki serta Yaman, Mesir dan Syiria.

PENGARUH TAREKAT
            Ada dua persepsi yang berkembang tentang jam’iyah tarekat di Indonesia. Pertama, tarekat dianggap sebagai fanatisme guru yang dapat berubah menjadi fanatisme politik. Kedua, tarekat dinilai sebagai gejala depolitisasi, pelarian dari tanggung jawab social dan politik. Analisa ini memberikan pemahaman bahwa tarekat yang dikehendaki adalah sebuah gerakan kaum sufi dalam kegiatan social keagamaan.
            Dari segi tujuan, tarekat dapat dikategorisasikan menjadi dua kategori besar. Pertama, tarekat sebagai gerakan purifikasi dengasn ditekankan adanya kegiatan dan pengkajian yang lebih inworld logding dalam arti berusaha ke arah pemurnian, keselamatan dan kedamaian yang bersifat individualistik.  Kedua, tarekat dijadikan sarana mengartikulasikan diri terhadap lingkungan atau sebagai sarana berdialog dengan lingkungan social politik, membentuk tingkah laku bersama dalam mencoba menginterprestasikan lingkungan untuk dijawab dan diatasi.
            Para pengkritik menekankan aspek asketis dan ukhroti dalam tarekat karena sebagai gejala depolitisasi dan escapism serta sebagai gerakan purifikasi tarekat lebih berorientasi kepada urusan ukhroti daripada duniawi.
            Jika dikaitkan dengan misi awal tarekat yang mengajak manusia menuju pensucian jiwa, maka tarekat tidak memiliki kaitan dengan politik sama sekali. Olehkarena itu, tarekat menerima label a-politik untuk dirinya, dalam arti tidak memiliki ambisi atau tendesi untukmeraih kemenangan dan keberuntungan politis.
            Bagi masyarakat urban, tarekat bisa menjadi counter culture, yaitu budaya budaya tandingan terhadap perkembangan zaman, seperti arus teknologi dan globalisasi yang sedang berkembang. Bagi mereka, tarekat adalah institusi masyarakat yang sedang mengalami transformasi kehidupan desa atau pedesaan menuju kehidupan kota atau perkotaan yang sedang mengalami benturan budaya dan semua itu menyebabkan culture shock. Dengan tarekat, mereka tidak akan kehilangan identitas diri dan merekapun bias survive.
            Di sisi lain, sebagai gerakan popular, tarekat dinilai sebagai kemajuan dimana ia sangat bertentangan dengan cara-cara ulama ortodok dalam menilai keislaman seseorang. Hal itu terjadi karena sebagai gerakan popular, tarekat merupakan kejenuhan terhadap akidah ahli kalam yang kaku.
            Tarekat telah mengendorkan syarat keislaman yang ketat yang memberikan bahaya yang serius. Namun, di sisi lain, dinilai telah  mampu menampilkan kelembutan wajah islam yang luar biasa.
            Karena karakteristik tarekat lebih mendahulukan intuisi dari rasio, ia sering di tuduh sebagai peyebab stagnasi intelektualitas umat islam. Namun dibalik semua itu terdapat sisi-sisi sejarah yang menempatkan kelompok tarekat sebagai kelompok umat islam yang berperan positif-konstruktif. Ia mampu mendorong umat masyarakat perkotaan dengan kepedulian, keterlibatan spiritualitas dan jiwa keagamaan yang kuat.
            Catatan sejarah itu tidak berlebihan bila di anggap sebagai bukti sejarah tarekat dalam proses pembinaan persaudaraan dan kecintaan terhadap tanah air (nasionalisme) yang dipelihara dan dibina dengan moralitas keagamaan yang tinggi.

 NAMA – NAMA TAREKAT
1.      Tarekat pada Qodiriyah
Muhyi al-Din Abu Muhammad Abd al-Qodir bin Musa bin Abdullah bin Musa (470-561 H/ 1.077-1.166 M). Tarekat ini lebih dalam berkonsentrasi kepada ketauhidan dalam beribadah.
           Ajaran pokok tarekat Qodiriyah meliputi: bercita-cita tinggi (‘alum al-Hikmmah) dan mengagungkan nikmat dari Allah.

2.      Tarekat Rifa’iyah
Tarekat ini didirikan oleh Ahmad al Rifa’i ( W. 570 H – 1.173 H). Tarekat Rifa’iyah dipandang lebih fanatik, memiliki tata cara yang tetap dalam menaklukkan hawa nafsu dan pelatihan-pelatihan yang luar biasa.
Pengikut tarekat ini yang bisa melakukan dzikir dengan baik akan dapat memasuki alam fana’ , dalam keadaan fana’ itu dapat melakukan hal yang menakjubkan seperti sihir.
     Daya tarik tarekat Rifa’iyah adalah dalam kekhususannya sebagai berikut :
a.       Mempermudah proses menjadi anggota
b.      Dalam ilmu ketuhanan tarekat rifa’iyah cenderung bersikap seperti Madzhab Asy’ariyah. Dalam sifat-sifat dan nama-nama Allah yang mengharuskan tafwidh dan taqlid
c.       Kedudukan aspek sima’ dan intuisi sebagai sesuatu yang tidak diragukan eksistensi dan esensiasinya sebagai bagian dari ajaran sufistiknya
d.      Ahmad Rifa’i mengikari ajaran al-Hajj baginya sebagai tidak lebih dari seorang pendusta
e.       Menjadikan para pengikutnya mempunyai keutamaan dan kemulyaan tertinggi dalam bentuk kelebihan lahiriyah laksana kesaktian dan kedigjayaan.



3.      Tarekat Ahmaddiyah/badawiyah
Didirikan oleh Ahmad bin Aly al-Husainy al-Badawy, tarekat ini sangat konsisten dengan al-Qur’an dan Al-Sunnah. Tarekat Ahmaddiyah sangat diminati karena, mendorong pengikutnya untuk pandai, kaya dan saling mengasihi 
4.      Tarekat Syadzaliyah
Abu Hasan al-syadzaliyah (593 – 656 H / 1.196 – 1.258 M) adalah pendiri tarekat syadzawiyah. Keutamaan dalam tarekat ini terdapat pada lima ajaran pokok:
a.       Takwa kepada Allah dalam segala keadaan
b.      Konsisten dalam mengikuti al-sunah
c.       Ridho pada ketentuan dan pemberian Allah
d.      Menghormati sesama manusia dan,
e.       Taubat dalam keadaan senang maupun susah
Tiga landasan pokok dalam tarekat ini ialah:
a.       Mencari ilmu
b.      Memperbanyak dzikir kepada Allah
c.       Hudzur ilaa Allah
Ketiga pokok tersebut selalu menjadi penekan kepada pengikut tarekat syadzaliyah karena, baginya di dalam diri manusia itu ada nur asli atau nur potensial yang akan menjadi kuat, berkembang dan syukur bila diperkuat dengan nur ilmu yang lahir akibat dzikir kepada Allah.

5.      Tarekat Syattariyah
Tarekat ini mempunyai karakteristik tersendiri dalam keyakinannya. Nisbah al-Syattar yang berasal dari kata syatara yang berarti membelah dua, dalam hal ini yang dibelah dua ialah kalimat tauhid yang dihayati dalam dzikir naïf itsbat, la illaha (naïf) dan illa Allah (itsbat).

Istilah Syatar sendiri, menurut Najmuddin Kubra, adalah tingkat pencapaian spiritual tertinggi setelah akhyar dan abror. Syatar dalam tarekat ini ialah para sufi yang meniadakan dzat, sifat dan af’al (diri).

AJARAN DAN DZIKIR TAREKAT SYATTARIYAH
Perkembangan tarekat ini ditujukan untuk mengembengkan pandangan membangkitkankesadaran akan Allah SWT di dalam hati, tetapi tidak melaluitahap fana’. Jalan paling utama menurut tarekat ini adalah ja,an yg di tempuh kaum akhyar(orang-orang pilihan)dan kaum abror(orang-orang terbaik)serta menguasai rahasia-rahasia dzikir. Ada sepuluh aturan yg harus di capai untuk tujuan tarekat ini, yaitu: taubat,z uhud, tawakal, qona’ah, ’uzlah, sabar, ridho, dzikir dan musyahadah.  
            Dalam tarekat ini, dikenal tujuh macam  dzikir muqoddimah,sebagai tangga masuk dalam tarekat syattriayah.
a.       Dzkir thowah,yaitu: dzikir dengan memutar kepala mulai dari bahukiri menuju bahu kanan dengan mengucap laa illaaha sambil menahan nafsu.
b.      Dzikir nafi itsbat,yaitudzikir dengen mengucapkan laa ilaaha,dengan mengeraskan suara nafinya(la ilaaha) daripada itsbatnya(illa Allah).
c.       Dzikir istbat faqoth,yaitu: dzikir dengan lafa,yaitu: dzikir dengan lafadz illa Allah yang dihujamkan ke dalam hati sanubari
d.      Szikir Taraqqi, yaitu dzikir dengan lafadz Allahhu, Allahhu lafadz Allah diambil dari dalam dada dan lafadz Hu dimasukkan ke dalam bait al-Makmur (otak)
e.       Dzikir Tanazul yaitu dzikir huwa Allah, lafadz huwa di ambil dari bait al-makmur dan dimasukkan ke dalam dada.
f.       Dzikir ism al-Ghoyb, yaitu dzikir Huw…….. dengan mata dipejamkan dan mulut dikatupkan dan diarahkan ke tengah dada menuju dalam dada
g.      Dzikir ism al-Dzat, yaitu dzikir ini dengan lafadz Allah yang dihujamkan ke tengah-tengah dada, dimana tempat bersemayamnya roh yang menandai hidup dan kehidupan manusia.
 Adapun tujuh nafsu yang harus ditunggangi, yaitu:
a.       Nafsu ammaroh, tempatnya di dada sebelah kiri, nafsu ini memiliki sifat: serakah, hura-hura, berlebih-lebihan, dengki, dendam, bodoh, pamer, sombong, pemarah dan tidak mengetahui Allah.
b.      Nafsu Lawwamah, yaitu nafsu ini mempunyai sifat enggan, acuh, pamer, ujub, ghoibbah dan dusta.
c.       Nafsu Mulhamah, mempunyai sifat dermawan, qona’ah, sederhana, belas kasih, lemah lembut, tawadhu dan taubat.
d.      Nafsu Muthmainah, memiliki sifat senang bersedekah dan tawakal, senang ibadah, syukur, ridho dan takut kepada Allah
e.       Nafsu Rodhiyah, memiliki sifat zuhud, wara, riyadhoh dan menetapi janji
f.       Nafsu Mardiyah, memiliki sifat berakhlak mulia, bersih dari dosa dan rela menghilangkan kegelapan makhluk
g.      Nafsu Kamillah, mempunyai sifat ‘ilm al-yaqin, ‘ain al –yaqin dan haq al-yakin.

6.      Tarekat Naqsyabandiyah
Tarekat ini didirikan oleh Muhammad Baha’ al-din al-Naqsyabandiyah. Tarekat Naqsyabandiyah melakukan syariat secara ketat, keseriusan beribadah dan mengutamakan berdzikir dalam hati.

Asas-asas
a.       Hush dar dam: “sadar dalam bernafas.”
Sufi yang bersangkutan haruslah sadar dalam menarik nafas, menghembuskan nafas dan ketika berhenti diantara keduanya sadar akan Allah
b.      Nazar bar qadam: “menjaga langkah.”
Sewaktu berjalan haruslah menjaga langkah-langkahnya, sedang dudukpun memandang lurus ke depan supaya tujuan (ruhani)nya tidak dikacaukan oleh hal-hal di sekitar yang tidak relevan
c.       Safar dar watan: “Melakukan perjalanan di tanah kelahirannya.”
Melakukan perjalanan batin yakni meninggalkan bentuk ketidaksempurnaan sebagai manusia menuju kesadaran akan hakekatnya sebagai makhluk yang mulia
d.      Kholwat dar anjuman: “Sepi di tengah keramaian.”
Menyibukkan diri dengan berfikir terus-menerus tanpa memperhatikan hal yang lain walaupun di tengah keramaian
e.       Yad kard: “Ingat.”
Terus menerus berdzikir (mengingat) nama Allah
f.       Baz gasyt: “Kembali.”
Mengendalikan hati supaya tidak condong kepada hal yang menyimpang
g.      Nigah dasyt: “Waspada.”
Menjaga pikiran dan perasaan sewaktu berdzikir, untuk mencegah pikiran dan perasaan menyimpang dari kesadaran yang tetap akan Allah
h.      Yad dasyt: “Mengingat kembali.”
Penglihatan yang diberkahi bahwa segalanya berasal dari Allah yang esa dan beraneka ragam ciptaan terus berlanjut tak terhingga.


TAREKAT KHOLWATIYAH
            Pendiri tarekat ini adalah Muhammad al-Kholwati (w 717 H ).
Ajaran dan dzikir  tarekat kholwatiyah menetapkan adanya amalan yang disebut al-Ama’ al-sa’ah (tujuh nama) tersebut ialah:
a.       Dzikir Laa ilaaha illa Allah
Dzikir ini disebut al naf al-ammaroh (nafsu yang mengacu keburukan). Jiwa ini di anggap jiwa yang sangat kotor dan selalul mengacu untuk selalu berbuat maksiat dan dosa.
b.      Dzikir Allah
Disebut al nafs al-Lawwamah (jiwa yang menegur). Jiwa ini di anggap jiwa yang sudah bersih dan selalu mengacu kepada kebaikan-kebaikan
c.       Dzikir Huwa
Disebut al nafs al-Mulwammah (jiwa yang terilhami) Jiwa ini di anggap jiwa yang sedang bersih dan sudah mendapat ilham dari Allah swt.
d.      Dzikir Haq
Disebut al nafs al-Muthmainah (jiwa yang tenang)
Selain jiwa ini sudah bersih juga di anggap tenang dalam menghadapi masalah hidup maupun goncangan jiwa lainnya



e.       Dzikir Hay
            Disebut al nafs ar-rodhiyah (Jiwa yang di ridhoi ) Selain jiwa ini semakin bersih, tenang, ridho (rela) terhadap apa yang menimpa pemiliknya, karena semua berasal dari Allah
f.       Dzikir Qoyyum
Disebut al nafs mardhiyyah (jiwa yang diridhoi) Selain jiwa ini semakin bersih, tenang, ridho terhadap semua pemberian Allah juga mendapat keridhoan-Nya.
g.      Dzikir Qohhar
Disebur al nafs al-kharimah (jiwa yang sempurna) Inilah jiwa yang terakhir atau puncak jiwa yang paling sempurna dan akan terus mengalami kesempurnaan selama hidupnya.

PENERAPAN TAREKAT
Seseorang tidak akan sampai kepada hakikat tujuan ibadah sebelum menempuh jalan itu.Jalan itulah yang dinamakan dengan “tarekat”.Jalan yang harus ditempuh seorang sufi tidaklah licin,tetapi sulit dan penuh dengan duri.Dalam perjalanan menuju tujuan itu,salik harus ikhlas,muraqabah,muhasabah dan tarrajud.Jalan yang harus ditempuh seorang sufi atau salik sangat panjang yang berisi stasion – stasion yang disebut dengan “maqamat”.Untuk berpindah dari stasion yang satu ke stasion yang lain memerlukan usaha yang sungguh – sungguh dan dalam waktu yang tidak singkat.
Langkah pertama yang harus dilakukan adalah taubat dari segala dosa,baik dosa besar maupun dosa kecil,yang makruh maupun yang subhat,dan dengan sebenar – benarnya taubat.Langkah kedua adalah zuhud,hidup sederhana,hidup bertapa,dalam arti tidak cinta dunia.Langkah ke tiga adalah sabar dalam segala – galanya.Sabar menjalankan perintah-Nya,sabarmenjauhi larangan-Nya,sabar menerima segala cobaan dan sabar menunggu pertolongan.Langkah keempat adalah tawakal berikutnya ridho  kemudian makrifat dan mahabbah (cinta).














DAFTAR PUSTAKA

Drs. H. A. Mustofa. Akhlak Tasawuf.1999.CV. Pustaka : Setia Bandung
http://rd. wikipedia.org/wiki/tarekat.
Pengantar tasawuf Islam. Drs. H. Suteja, M.Ag. Cirebon, 2008. Pangger Press.













TAREKAT

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Terstruktur
Mata Kuliah : Akhlak Tasawuf
Dosen Pengampu



Description: F:\MY DOCUMENT\My Pictures\My Pictures\Logo\IAIN SYEKH NURJATI.jpg
 







Disusun oleh :
Kelompok 2
1.      Mawar Jannati Al Fasiri
2.      Erin Rismaya
3.      Nurul Qomar


INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
SYEKH NURJATI  CIREBON
2011

1 komentar: